Aku berjalan tenang menuju pelaminan, dengan gamis putihku yang menjuntai di atas karpet merah yang digelar di lantai. Di tanganku tertata cantik bunga mawar putih yang indah.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencoba memperhatikan setiap detail dekorasi yang membuatku terkagum-kagum.
Gedung bernuansa modern ini didekor dengan perpaduan warna putih dan biru yang menyejukkan mata. Dengan rangkaian bunga yang berwarna senada menambah kesan keindahannya. Lampu-lampu dengan bentuk yang cantik dan unik, disusun dengan rapi yang menambah kesan elegan dan mewah. Sungguh aku terpesona dengan dekorasinya
Sejenak Pikiranku melayang, Membawaku pergi kembali pada ingatan masa lalu. Melupakan riuh suara tamu undangan, di gedung resepsi yang sudah ramai.
–
“Mari kita berpisah untuk memperbaiki diri masing-masing dan bertemu lagi dengan versi terbaik kita”
Kata lelaki itu, sembari menyodorkan jari kelingkingnya padaku.
Aku tersenyum, dan menyodorkan jari kelingking ku pada laki-laki dihadapanku itu “ janji yah?”
“Janji!” Jawabnya dengan tegas tanpa beban, sembari mengikatkan kelingkingnya pada jari kelingkingku.
—
Aku mengulum senyum sesaat, lantas menggeleng kecil kepalaku dan kembali fokus pada langkahku.
Ratusan pasang mata tertuju padaku, mereka seolah terkesima dengan kedatanganku, yang berjalan menuju kursi pelaminan. Aku terus melanjutkan langkah tanpa menghiraukan tatapan mereka.
Kini aku sudah berada di depan kursi , tempat dimana laki-laki yang berjanji kembali padaku dahulu.
Berulang kali aku menarik nafas mencoba menetralkan debaran yang tak beraturan ini. Sampai aku yakin bahwa aku benar-benar siap untuk melakukannya.
“Selamat atas pernikahan kalian, ku doakan semoga kalian bahagia dan segera mendapatkan momongan”
Aku tersenyum kepada kedua mempelai seraya memberikan sebuket bunga, ucapan selamat, serta doa.
Andaikan bukan paksaan dari sahabatku, aku tak akan menghadiri pernikahan ini. Karena katanya “kalau kamu tidak hadir, tentu nantinya laki-laki itu menertawaimu karena mengira kau belum move on”
“Terimakasih, sudah menyempatkan waktu untuk datang”
Kedua mempelai membalas ramah dengan senyuman yang terukir di masing-masing wajahnya..
Namun entah mengapa, melihatnya membuat hatiku berkecamuk, disertai rasa perih yang tiba-tiba menyayat hati, mataku mulai memanas menahan rasa sakit yang menyesakkan didalam dada.
Rasanya aku ingin menghilang saja, sungguh ini menyakitkan.
Nukho
7 July 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar